ME-NYE-BAL-KAN!
Empat suku kata berurutan itu sekarang tengah menggerogoti
perasaan seorang pemuda berwajah imut bernama Kuroko Tetsuya.
Rasanya ia ingin sekali mengumpat-umpat ketika melihat
pemandangan menjengkelkan yang ia serta sang kekasih, Akashi Seijuurou dapatkan
malam ini.
Eh, menjengkelkan?
Memang pemandangan seperti apa yang berani menampakan
dirinya hingga membuat emosi tersulut dari dalam diri seorang Kuroko Tetsuya?
Mari kita mencoba untuk menebak.
Sekumpulan preman kampung dengan gaya rambut mirip mantan
anggota tim basket mereka di Teiko, Haizaki Shougo sedang berdiri di gang
berbau sampah busuk menunggu mangsa seorang gadis perawan lewat di tempat
menjijikan itu sehingga bisa mereka poroti –atau lebih parahnya dilecehkan dan
diperkosa?
Tidak. Asal Tetsuyanya bukan incaran dari preman-preman itu,
Akashi masa bodoh dengan sekumpulan orang-orang kurang kerjaan tersebut.
Lagipula, di tempat mereka berdiri sekarang adalah suatu titik yang relatif
aman di wilayah Tokyo, jadi pemandangan preman-preman seperti tadi sangat
jarang ditemui. Kalaupun ada, polisi langsung meringkus mereka.
Tebakan pertama salah.
Melihat pasangan tidak tahu malu tengah bercumbu di tempat
umum –yang mentang-mentang kali ini situasi sedang gelap- sambil saling
grepe-grepe?
Tidak juga. Kalau boleh diumbar, Akashi pun pernah melakukan
hal sebangsa dengan itu –tanpa grepe-grepe- dengan sang kekasih di mobil sport
merah miliknya yang terparkir rapi di pinggir jalanan sepi. Namun sayang mereka
terkena apes dan nyaris dihampiri polisi andai Akashi tidak menyadarinya
terlebih dahulu dan langsung tancap gas.
Salah lagi.
Anjing Alaska mungil bermata biru langit yang diketahui bernama
Nigou mendadak menjadi buas dan raksasa serta berganti warna iris menjadi heterochrome seperti milik Akashi?
Walau mengerikan, tapi pilihan tadi benar-benar salah dan
terlalu muluk-muluk. Memangnya mereka berdua sedang berada di dunia novel
fantasi di mana seorang makhluk imut bisa berubah menjadi monster buas yang
siap menerkam mereka dan memporak porandakan keadaan?
Tiga tebakan dan semuanya salah.
Lalu,
Ada apa sebenarnya ini?
Kuroko menatap kekasih bersurai merahnya yang sedang
mengunci mobil dengan tatapan datar. Cih, bahkan ketika kata ‘menyebalkan’
menghampiri dirinya, Kuroko masih saja bisa memasang wajah tanpa ekspresi itu.
Padahal—
“Sei-kun, lain kali ingatkan aku untuk mengikuti insting,
terutama yang mengatakan bahwa aku harus mengisi daya baterai selagi listrik
hidup di masa pemadaman listrik begini.”
--untuk yang kelima kalinya dalam seminggu, apartemen tempat
mereka berdua tinggal mendapat ganggu sehingga ketika malam hari, listrik mati
total. Tepat di saat keduanya baru saja tiba di apartemen.
Baru menginjakan kaki selangkah dan tiba-tiba…
Suasana yang semula terang menjadi mendadak gelap.
Dan Akashi, walau selalu mengklaim dirinya absolut, kali ini
ia tidak bisa menjamin sang kekasih tidak merasa jengkel tingkat maksimal
dikarenakan tugas skripsinya lagi-lagi harus tertunda dikarenakan baterai
laptop berwarna biru milik sang kekasih sekarat.
.
When The Light Turn Off
Kuroko no Basket by Tadatoshi
Fujimaki
(I don’t get any commercial
profit from this fanmade story. Kuroko no Basket originally belongs to Fujimaki
Tadatoshi)
Rate: T
Genre: Romance, Fluffy, (a bit) family, Real Life based (?)