ME-NYE-BAL-KAN!
Empat suku kata berurutan itu sekarang tengah menggerogoti
perasaan seorang pemuda berwajah imut bernama Kuroko Tetsuya.
Rasanya ia ingin sekali mengumpat-umpat ketika melihat
pemandangan menjengkelkan yang ia serta sang kekasih, Akashi Seijuurou dapatkan
malam ini.
Eh, menjengkelkan?
Memang pemandangan seperti apa yang berani menampakan
dirinya hingga membuat emosi tersulut dari dalam diri seorang Kuroko Tetsuya?
Mari kita mencoba untuk menebak.
Sekumpulan preman kampung dengan gaya rambut mirip mantan
anggota tim basket mereka di Teiko, Haizaki Shougo sedang berdiri di gang
berbau sampah busuk menunggu mangsa seorang gadis perawan lewat di tempat
menjijikan itu sehingga bisa mereka poroti –atau lebih parahnya dilecehkan dan
diperkosa?
Tidak. Asal Tetsuyanya bukan incaran dari preman-preman itu,
Akashi masa bodoh dengan sekumpulan orang-orang kurang kerjaan tersebut.
Lagipula, di tempat mereka berdiri sekarang adalah suatu titik yang relatif
aman di wilayah Tokyo, jadi pemandangan preman-preman seperti tadi sangat
jarang ditemui. Kalaupun ada, polisi langsung meringkus mereka.
Tebakan pertama salah.
Melihat pasangan tidak tahu malu tengah bercumbu di tempat
umum –yang mentang-mentang kali ini situasi sedang gelap- sambil saling
grepe-grepe?
Tidak juga. Kalau boleh diumbar, Akashi pun pernah melakukan
hal sebangsa dengan itu –tanpa grepe-grepe- dengan sang kekasih di mobil sport
merah miliknya yang terparkir rapi di pinggir jalanan sepi. Namun sayang mereka
terkena apes dan nyaris dihampiri polisi andai Akashi tidak menyadarinya
terlebih dahulu dan langsung tancap gas.
Salah lagi.
Anjing Alaska mungil bermata biru langit yang diketahui bernama
Nigou mendadak menjadi buas dan raksasa serta berganti warna iris menjadi heterochrome seperti milik Akashi?
Walau mengerikan, tapi pilihan tadi benar-benar salah dan
terlalu muluk-muluk. Memangnya mereka berdua sedang berada di dunia novel
fantasi di mana seorang makhluk imut bisa berubah menjadi monster buas yang
siap menerkam mereka dan memporak porandakan keadaan?
Tiga tebakan dan semuanya salah.
Lalu,
Ada apa sebenarnya ini?
Kuroko menatap kekasih bersurai merahnya yang sedang
mengunci mobil dengan tatapan datar. Cih, bahkan ketika kata ‘menyebalkan’
menghampiri dirinya, Kuroko masih saja bisa memasang wajah tanpa ekspresi itu.
Padahal—
“Sei-kun, lain kali ingatkan aku untuk mengikuti insting,
terutama yang mengatakan bahwa aku harus mengisi daya baterai selagi listrik
hidup di masa pemadaman listrik begini.”
--untuk yang kelima kalinya dalam seminggu, apartemen tempat
mereka berdua tinggal mendapat ganggu sehingga ketika malam hari, listrik mati
total. Tepat di saat keduanya baru saja tiba di apartemen.
Baru menginjakan kaki selangkah dan tiba-tiba…
Suasana yang semula terang menjadi mendadak gelap.
Dan Akashi, walau selalu mengklaim dirinya absolut, kali ini
ia tidak bisa menjamin sang kekasih tidak merasa jengkel tingkat maksimal
dikarenakan tugas skripsinya lagi-lagi harus tertunda dikarenakan baterai
laptop berwarna biru milik sang kekasih sekarat.
.
When The Light Turn Off
Kuroko no Basket by Tadatoshi
Fujimaki
(I don’t get any commercial
profit from this fanmade story. Kuroko no Basket originally belongs to Fujimaki
Tadatoshi)
Rate: T
Warning: OOC dan typos (maybe),
genre campur aduk dalam one-shot ini.
For RNA Challenge
Enjoy~
.
“Jadi Tetsuya, apa kata mereka?” tanya Akashi begitu sang
kekasih menjauhkan telepon genggam dari telinganya dan menekam simbol telepon
berwarna memrah yang tertera di layar smartphone
milik sang surai langit.
Kuroko menghempaskan tubuhnya di sofa empuk tempat Akashi
duduk sambil melemparkan teleponnya secara asal dan ditangkap dengan reflek
yang tinggi oleh si pemilik mata heterochrome.
Keduanya berhasil masuk ke ruang apartemen mereka yang terletak di lantai
empat setelah menaiki puluhan anak tangga dan bersitenggang di depan pintu
apartemen. Berdebat masalah “kunci ini yang benar” dikala Akashi mengeluarkan
segempok kunci yang tersambung melalui sebuah gantungan. Dan dikarenakan
keduanya ribut sambil berebut mencoba kunci satu persatu ke lubang pintu tidak
bersalah yang jadi korban digilir, keduanya sampai lupa bahwa masing-masing
dari mereka membawa smartphone yang
memiliki fitur lampu senter yang terletak di sebelah lensa kamera.
Baik Kuroko dan Akashi, keduanya baru sadar hal itu ketika
sang surai merah memerintahkan kekasihnya untuk menelpon bagian customer service perusahaan listrik yang
menyuplai kebutuhan listrik di Tokyo demi meminta konfirmasi penyebab putusnya
arus listrik dan perkiraan kapan segalanya akan normal kembali.
Ah, terkadang keadaan lemas, lunglai serta tekanan akan
tugas di universitas bisa membuat keduanya melupakan hal sepele macam tadi.
Beruntung kacamata minus –yang mulai dipergunakan Akashi
semenjak memasuki semester lima masa kuliah, walau minus yang diderita sang
Akashi tidaklah parah, hanya setengah- masih bertengger di batang hidungnya
sehingga di tengah kegelapan, pengelihatannya menajam dan ia bisa menangkap
ekspresi merengut di wajah Kuroko.
“Kemungkinan untuk daerah Tokyo, listrik akan hidup pada
dini hari.”
Oh, tentu saja pemberitahuan itu membuat sang empu kesal.
Pasalnya, kini Kuroko sedang menempuh semester terakhir,
atau lebih rincinya, ketika masa-masa penyusunan skripsi dan maju presentasi ke
hadapan dosen demi menamatkan kuliahnya di Jurusan Sastra Universitas Tokyo
–atau nama bekennya, Todai (Tokyo Daigaku)
“Lalu, skripsimu yang tadi tertunda karena laptopmu mendadak
sekarat apa kabar?”
“Tidak tahu. Seingatku sebelum Akashi-kun menjemput di fakultas
dan laptopku mati aku sempat menyimpan di flashdisk
dan data(D:) Tapi aku lupa tepatnya kapan.”
Akashi menaikan sebelah alisnya begitu mendengar penuturan
Kuroko. Yah, semoga saja pemuda berwajah manis itu menyimpan datanya pada tahap
akhir ia mengetik. Akashi kurang begitu yakin dengan teknologi Auto save yang terdapat di program
mengetik di laptop itu. Terkadang tidak bekerja dengan baik. Percayalah, karena
ia sendiri pernah mengalaminya.
“Akashi-kun sendiri, bagaimana?” tanya Kuroko sambil menoleh
ke arah kekasihnya, masih dalam keadaan tubuh bersender di sofa.
“Aku? Skripsiku sudah selesai dan dikoreksi. Oh ya, Tetsuya.
Minggu ini rencananya aku akan maju presentasi.”
Ya, Akashi sendiri juga sedang menempuh semester terakhir
sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Tokyo. Jadi, kedua
orang tua dari kedua belah pihak membiarkan mereka berdua untuk tinggal bersama
di sebuah apartemen di dekat sana.
Walau keluarga Kuroko juga berada di Tokyo, hanya keluarga
Akashi yang melepas putra tunggal mereka merantau dari Kyoto ke Tokyo, keluarga
sang surai biru langit membiarkan Kuroko tinggal bersama Akashi dengan alasan
mereka bisa sekaligus belajar mandiri. Toh juga, di masa depan mereka akan
membangun rumah tangga dan tinggal berdua bersama anak-anak mereka.
Pemikiran yang sangat…
Kritis.
“Ugh. Sepertinya aku terlalu lambat.” Keluh Kuroko lagi.
Akashi tersenyum sambil mengacak surai orang yang dicintainya semenjak tiga
tahun terakhir. “Tenang Tetsuya. Kau bisa meminjam laptopku nanti. Sebaiknya
sekarang kau mandi. Sepertinya water
heater masih bekerja karena listrik padam belum lama. Kau bau.” Katanya
sambil merengkuh tubuh Kuroko gemas membuat Kuroko jadi tampak seperti menindih
Akashi.
“Salah Akashi-kun sendiri memelukku terlalu erat dan gemas.
Akashi-kun juga bau.” Sungut Kuroko, mencubit pelan lengan kekar yang masih
senantiasa melingkari pinggang dan mengacak surainya.
“Eh, sembarangan. Aku sudah mandi tadi sebelum menjemputmu,
sayangku.” Ledek Akashi sambil balik mencubit pipi kenyal kekasihnya.
Kuroko menggembungkan pipinya, “Sudahlah, aku mau mandi.
Sepertinya guyuran air hangat cocok untuk melepaskan penat.”
Ia bangkit dari sofa setelah beberapa detik bergulat dengan
lengan Akashi yang seakan-akan ngotot tidak ingin melepaskan guling barunya
itu.
Tubuh mungil yang terbalut kemeja berwarna putih polos
berlengan panjang yang terlipat rapi hingga sesikut dan dipadu dengan celana
kain berwarna hitam legam akhirnya berjalan menuju kamar mereka berdua dan
menutup pintu sehingga meninggalkan Akashi sendiri di ruang tengah yang gelap.
Hanya diterangi oleh layar handphone yang
sekarang dimainkan sang empu bermata heterochrome.
“Oh, Tetsuya menutup pintu? Aku yakin sebentar lagi hal itu akan terjadi lagi.” Akashi terkikik
pelan mengingat rutinitas yang sudah ia lakukan empat hari belakangan ini.
“Dasar, pikiran yang terlalu kelelahan mengurus skripsi ternyata bisa membuat
Tetsuya seperti ini.”
Akashi tersenyum tertahan sambil tetap memainkan smartphone-nya sambil menunggu hal itu
terjadi. Ia bertingkah seperti tidak tahu apa-apa dan menunggu kekasihnya
mengumandangkan kalimat sakral itu.
Kriet…
Yak, sebentar lagi
Tetsuya akan memunculkan kepalanya dari balik pintu dan…
“Akashi-kun. Tolong diam di depan kamar mandi, sinari aku.
Aku tidak bisa melihat apapun di kamar mandi. Tadi aku terpeleset sabun mandi
karena gelap.”
Akashi nyaris menyemburkan tawa namun ia tahan karena takut
sang kekasih merasa tersinggung.
-x-
Jadi, di sinilah mereka sekarang.
Tetsuya sedang asyik mengguyur tubuhnya di shower yang
untungnya masih hangat. Akashi tengah menungguinya.
Ya, menunggu.
Apa yang ada dipikiran kalian begitu membaca kalimat di
atas? Akashi senantiasa berdiri di pintu kamar mandi yang terbuka lebar sebari
memegang senter sementara Tetsuya berguyur di bawah shower di depan Akashi
secara terang-terangan?
“Akashi-kun. Jangan dihabiskan baterai laptopnya, aku mau
pinjam.”
Jika itu pemandangan yang terbesit di otak kalian, salah
besar.
Skenario tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kalimat yang dilontarkan Kuroko pada Akashi.
Eh? Memangnya bagaimana sih, cara Akashi menemani Kuroko?
“Tenang saja Tetsuya. Aku hanya mengecek data kok.” Sahut
Akashi sambil menyamankan posisinya pada kursi putar yang berisi roda serta
penyangga tangan. Sementara sebuah laptop terduduk manis di pahanya yang masih
terbalut celana jeans.
Kuroko tidak menbalas sahutan Akashi, ia tetap berguyur
untuk membilas badannya yang penuh dengan busa sabun di kamar mandi yang gelap
dan hanya diterangi oleh sinar layar laptop Akashi dari depan pintu dan fitur
senter smartphone dari sang surai
merah yang diletakkan di wastafel –tentunya sudah di lap terlebih dahulu-.
Akashi, yang duduk dengan posisi kursi menyerong dari
pinggir pintu sehingga simetris dengan Tetsuya yang sedang mandi, kembali asyik
menjamaah laptopnya. Namun sesekali ia mengernyit dan jari-jarinya lincah
menekan tombol backspace lalu
mengetik ulang beberapa kalimat. Tampaknya Akashi sama sekali tidak
menghiraukan keadaan kekasihnya yang saat itu sangat ‘mengundang’.
Tiba-tiba, Akashi langsung bangkit dan mengambil handphone-nya dari wastafel secara
tiba-tiba, menyebabkan Kuroko yang tengah mengeringkan tubuhnya dengan handuk
tersentak begitu satu-satunya cahaya yang ada di sana mendadak menghilang,
hanya tersisa sedikit cahaya dari layar laptop Akashi, itupun terkadang tidak
sampai kesana karena Akashi meninggalkan singasananya dengan sangat tiba-tiba
sehingga kursi itu berputar, menyebabkan laptop yang diletakan Akashi disana
mengikuti arah wadahnya.
“Akashi-kun, kau mau kemana?” tanya Kuroko dengan suara yang
volumenya agak dikeraskan, berhubung telinganya samar-samar mendengar langkah
kaki pemuda yang menggunakan baju kaus berkerah Polo berwarna putih tersebut semakin menjauh dari kamar mandi dan
terdengar bunyi berderit dari lemari yang menandakan telah dibuka oleh
seseorang.
“Aku mengganti celana Tetsuya, memakai jeans di suasana
sepanas ini tidak nyaman.” Jawab Akashi, tangannya tetap sibuk mengangkat
setumpuk baju agar tidak berantakan demi menarik sebuah celana pendek selutut,
atau tepatnya celana yang sering ia gunakan untuk latihan basket. “Kenapa?
Takut ya aku tinggal?” bibir jahil sang Akashi kembali menggoda Kuroko yang
sudah dipastikan sekarang tengah bersemu merah karena malu di kamar mandi,
walau tentunya pemandangan itu tidak dapat disaksikan siapapun karena gelapnya
keadaan.
“U-Ugh! Tidak! A-Aku hanya terkejut, karena penerangan yang
ada mendadak hilang.”
Akashi terkekeh pelan sambil melepaskan sabuknya perlahan. Sejak kapan Tetsuya menjadi tsundere seperti Shintarou begini? Tapi lucu juga.
Suasana di antara keduanya mendadak sepi kembali.
Sampai-sampai, suara deru mesin mobil terdengar jelas berhubung saat ini mati
listrik sehingga tidak ada suara-suara dari televisi maupun lagu yang biasa
disetel oleh mereka berdua sebelum tidur.
“Sudah selesai, Akashi-kun?” kembali Kuroko bertanya begitu
langkah kaki kembali terdengar, namun sekarang mendekatinya.
Duk.
Penerangan Kuroko kembali. Suara tadi adalah suara benda
bersentuhan dengan permukaan keramik wastafel. Akashi kemudian menghempaskan
diri di kursi putar merah marun kesayangannya, “Sudah. Itu penerangan sudah
kukembalikan-- Oh, ngomong-ngomong. Kenapa kau tidak menggunakan milikmu?”
“Lowbat, Akashi-kun.
Beberapa menit setelah menelpon langsung mati.”
Akashi rasanya ingin sekali menjambak rambut Kuroko yang
biasanya agak mencuat dan tidak teratur ketika habis mandi. Entah bagaimana
kekasihnya kuat sekali ketika keadaan baterai peralatan elektroniknya drop drastis. Tapi yah, insiden mati
lampu beruntun ini tampaknya sudah sedikit memberi efek pada Kuroko yang
sekarang sedang mengejar skripsi, sehingga ia kapok dan mau tidak mau baterai
laptopnya harus setidaknya terisi terus.
Dan Akashi memang sejak kecil diajarkan untuk menjadi
seorang gentleman, berhubung dirinya
adalah pewaris tunggal keluarga Akashi, jadi tidak mungkin ia sekarang nekat
untuk menerjang sang pemuda bersurai biru langit lalu menjambaknya layaknya
ibu-ibu tiri di sinetron yang kadang Akashi temui secara tidak sengaja di salah
satu channel TV.
“Akashi-kun. Terima kasih lampunya.”
Oh, karena terlalu larut dengan pikiran sendiri, Akashi
tidak sadar bahwa Kuroko sekarang sudah berada di depannya dan mengulurkan handphone-nya, bermaksud untuk
mengembalikan.
“Oh iya, terima kas—“ mungkin, kalau Akashi tidak digembleng
dengan didikan keras nan absolut dari sang ayah mengenai tingkah laku, ia
sekarang akan sweatdrop.
Pasalnya, Kuroko mengembalikan handphone dengan posisi yang sangat absurd.
Dengan lampu yang masih menyala di sebelah kamera yang
terletak di bagian belakang, ia memposisikan benda mungil tersebut dengan
posisi lampu menghadap ke atas, dan layar bersentuhan langsung dengan telapak
tangan pucatnya.
Jadi, ketika Akashi menengadahkan kepalanya untuk bertatap
muka dengan sang kekasih sebelum mengambil kembali benda miliknya itu, ia
menemukan pemandangan wajah datar nan pucat Tetsuya terkena sinar lampu yang
diarahkan ke atas--
“Tetsuya, wajahmu mengerikan.”
Terlihat seperti orang yang menyalakan senter dari bawah
saat memulai sebuah cerita horror.
“Semengerikannya wajahku, masih jauh lebih mengerikan latihan
ala Akashi-kun ketika di Teikou dulu.”
Aih, sempat saja wajah datar itu mengelak. Walau tidak
sepenuhnya salah karena memang metode latihan Akashi sendiri terkenal kejam.
Akashi jadi merasa nostalgia dengan masa-masa SMP di mana pertama kalinya ia
bertemu dengan Kuroko.
Bruk.
Akashi memalingkan kepalanya ke arah kasur dan menemukan kekasihnya
sedang merebahkan badannya dan sebelah lengannya tengah menutupi kedua iris aquamarine-nya. “Lho Tetsuya, tidak jadi
melanjutkan skripsimu?”
“…. Mmh…” gumam tidak jelas terucap dari bibir tipis Kuroko,
membuat Akashi mau tidak mau merasa sedikit khawatir. Bisa saja kekasihnya itu
sekarang tengah terserang demam karena kelelahan. Akashi ingat betul tubuh
Kuroko itu agak lemah –walau yang bersangkutan juga seorang atlet, sama
sepertinya-.
Pemuda bersurai merah itu sekarang mendudukan dirinya di
pinggir ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Kuroko. Akashi
menghembuskan nafas lega kemudian mengelus surai yang masih agak basah itu
dengan lembut. Syukurlah dia tidak demam.
Mungkin hanya kelelahan.
“Hng… Akashi-kun…” bibir mungil itu kembali menyebutkan nama
orang terkasihnya.
Tangan Akashi berhenti mengelus surai biru Kuroko, “Tetsuya,
jika ingin menggodaku silahkan saja aku akan dengan senang hati menyerangmu jika kau tetap bersuara seperti tadi.”
Sial. Kuroko langsung merasakan ada alarm bahaya dan
tangannya spontan mencubit lengan putih milik Akashi lagi, walau tidak terasa
sakit karena yang bersangkutan sudah tidak punya tenaga lagi. “Aku belum
selesai bicara, Akashi-kun.”
Berhasil. Nadanya berubah seratus persen menjadi datar dan
tidak berperasaan, walau Akashi bisa melihat matanya memancarkan kelelahan.
“Aku ingin tiduran sebentar. Sejam lagi tolong bangunkan
aku. Dan, iya. Aku jadi meminjam laptopmu, Akashi-kun.”
Satu-satunya orang yang bisa memerintah seorang Akashi
Seijuurou akhirnya mengumandangkan keputusan finalnya sebelum ia terbuai ke
alam mimpi. Meninggalkan sang empu sendiri yang masih terheran-heran, selelah
inikah Tetsuyanya hingga mudah sekali untuk tertidur.
“Hmph, baiklah.” Pemuda bersurai merah itu mengulum senyum
tipis sebelum akhirnya ia merendahkan dirinya dan mempertemukan bibirnya dengan
bibir tipis sang kekasih untuk beberapa detik. Tidak lupa tangan kanannya
sedikit mengangkat leher dan menyangga kepala Kuroko. Memberikan sang putri
tidur ciuman hangat penuh kasih sayang.
“Selamat tidur, Tetsuya…”
-x-
Akashi keluar dari kamar dan ia menuju dapur. Ia bermaksud untuk
menghangatkan sup tofu yang tadi sore sempat ia masak demi mengenyangkan perut
yang menjerit-jerit minta diisi makanan. Kulit telapak kaki telanjangnya berjalan,
bersentuhan dengan permukaan lantai kayu yang telah di pernis hingga mengkilat
tersebut.
Senter mungil dari handphone
menjadi satu-satunya penunjuk jalan ketika ia menyebrangi ruang tengah yang
lumayan penuh akan barang-barang. Walau ruangan itu tertata rapi, namun Akashi
tidak yakin ia tidak akan tersandung suatu benda ataupun menabrak benda hingga
kakinya lecet karena suasananya sendiri benar-benar gelap. Salahkan ia yang
terlalu kritis sehingga menutup tirai merah marun yang menjadi hiasan di pintu
raksasa berbahankan kaca yang bermodel pintu lipat serta dibingkai oleh kayu
jati bercat abu gelap yang memiliki fungsi merangkap sebagai jendela tersebut.
Akashi yang semula bertujuan untuk ke dapur, seketika
mengubah dan ia langsung melangkah menuju jendela tersebut. Sesekali terdengar
suara ‘Ouch!’ terlontar dari bibirnya karena
kakinya tidak sengaja bertabrakan dengan kaki-kaki meja pendek yang menjadi
penghias di ruang tengah.
Srek.
Pemuda bersurai merah tadi menggeser tirai dengan satu
gerakan cepat ke sisi kanan dan kiri kemudian mengikat pada penyangga yang
memang tersedia di sisi kanan dan kiri.
Terlihat pemandangan malam Tokyo yang biasanya terang penuh
akan lampu di setiap gedung dan rumah sekarang semuanya menjadi gelap gulita. Rasanya
seperti kembali ke jaman di mana bola lampu belum ditemukan oleh Thomas Alva
Edison. Akashi berani bertaruh, satu-satunya tempat yang terang benderang saat
ini hanyalah rumah sakit dan beberapa mall
dan kantor yang menggunakan fasilitas genset di saat-saat seperti ini.
Selebihnya, gelap.
Situasi ini menyebabkan Akashi menyadari sesuatu.
Suasana malam tidaklah segelap yang ia kira. Buktinya?
Di saat lampu-lampu dipadamkan di seantero kota Tokyo,
ketika Akashi menengadahkan kepalanya dari balik jendela, ia melihat langit
malam tanpa adanya awan-awan nakal yang menutupinya.
Akashi melihat langit malam yang dihiasi oleh
bintang-bintang yang berjejer layaknya permadani yang terhampar luas. Pemikiran
yang ia terapkan selama bertahun-tahun bahwa langit malam itu berwarna hitam
kelam juga ia tepis jauh-jauh. Karena pada suasana di mana tidak ada lampu
seperti sekarang, langit yang terhampar di angkasa berwarna biru gelap, menurut Akashi sendiri itu termasuk cukup
terang. Ditambah, malam ini bulan purnama seakan-akan menggantung di langit dan
bersinar terang.
Oh, Akashi jadi ingat perbincangan yang tidak sengaja ia
curi dengar di kampus tadi.
Sepertinya tidak ada
salahnya mencoba…
Setelah puas memandangi langit malam itu, ia membalikan
badan dan kembali berjalan menuju dapur. Kali ini senter mini miliknya tidak
ikut ambil peran karena sinar bulan sendiri sudah cukup terang merasuki ruangan
utama di apartemen milik Akashi dan Kuroko tersebut. Akashi langsung berbelok
begitu menyadari sekat antara dapur dan ruang tengah yang berupa meja panjang
yang berisikan beberapa kursi panjang layaknya di bar.
Kursi di bar itu sebenarnya sudah lebih dari cukup jika yang
menempati apartemen itu hanya dua orang, dan keduanya selalu pulang malam
hingga rasanya tidak ada waktu untuk sekedar bersantai di sana. Namun, walau
mereka hanya tinggal berdua, tidak jarang teman-teman mantan tim basket di
Teikou datang untuk berkunjung, bahkan teman masa kecil Kuroko, Ogiwara
Shigehiro juga sering sekali ke sana. Sebenarnya itu karena Akashi yang enam
bulan kemarin tengah sibuk mengurus kuliahnya sendiri jadi ia menitipkan
kekasihnya pada Ogiwara. Namun tetap saja, walau ceritanya ‘menitipkan’,
ancaman gunting juga tidak ketinggalan ketika ia bernegosiasi dengan Ogiwara
mengenai masalah itu.
Akashi langsung membuka kulkas dan mengambil sup tofu
buatannya tadi yang terletak di wadah mangkuk keramik berbahan khusus sehingga
mangkuk tadi bisa langsung digunakan untuk memasak dan itu benar-benar
memudahkan pekerjaan seorang Akashi Seijuurou yang anti ribet.
Tunggu—
Sup tofu buatan Akashi sendiri?
Jangan salah, walau
Akashi bisa dikatakan adalah seorang ‘Tuan Muda’ dari keluarga terpandang,
semenjak ia berangan-angan untuk tinggal bersama sang kekasih ketika keduanya
telah menginjak jenjang universitas, ia jadi memiliki motivasi untuk belajar
memasak. Walau tentu saja masakannya hanyalah masakan simpel, namun menu sup
tofu tentunya tidak boleh ketinggalan dari kegiatan belajar memasaknya yang
didampingi oleh kepala koki di rumah aslinya di Kyoto.
Walau Akashi bisa memasak , tentu saja secara keseluruhan
urusan masak memasak tetap ditangani oleh Kuroko. Sementara Akashi sendiri
lebih sering menangani urusan bersih-bersih. Kenapa? Karena satu-satunya menu
yang paling Akashi kuasai hanyalah sup tofu. Selebihnya, hanya sekedar bisa dan
yang terpenting tidak gosong serta rasanya masih normal untuk masuk pencernaan
manusia.
Jadi, Kuroko harus berpikir dua kali untuk menyerahkan
urusan dapur pada Akashi. Kemungkinan besar, hidup mereka akan selalu dicekoki
sup tofu jika ia membiarkan Akashi yang memasak terus.
Akashi terdiam sejenak duduk di kursi tinggi sebelum
akhirnya sup tofunya mendidih dan mengambilnya menggunakan sarung tangan
berbahan kain tebal yang biasa digunakan Kuroko untuk mengangkat panci panas.
“Oh, sudah hampir satu jam. Sebaiknya aku bergegas menyelesaikan
ini dan membangunkan Tetsuya.” Gumam Akashi ketika melihat waktu yang tertera
di layar ponselnya ketika ia akan menghidupkan fitur senter lagi untuk membantu
penerangan karena ia akan menyiapkan piring dan lain-lain.
-x-
“Tetsuya…”
Saat Akashi memanggil namanya halus, Kuroko sedang berada di
ambang kesadarannya. Ia masih tertidur, namun samar-samar ia bisa mendengar
suara berat Akashi memanggil namanya sambil mengguncangkan pundaknya pelan.
Namun rasa kantuk tampaknya lebih menguasai kesadaran Kuroko
saat ini. Sehingga ketika Akashi membangunkannya, ia hanya menjawab dengan
gumaman tidak jelas kemudian Kuroko membalikan tubuhnya membelakangi Akashi
yang sedang duduk di pinggir ranjang.
“Tetsuya… Ini sudah satu jam.” Akashi tetap gigih berusaha
membangunkan kekasihnya.
Gerutuan tidak jelas kembali terdengar selama beberapa detik
kemudian hening.
“Tetsuya, kau harus makan sekarang sudah malam.” Akashi kembali
mengguncangkan bahu Kuroko namun kali ini ia sedikit memperkeras volume
suaranya.
“Ngg, tidak usah. Tidak lapar.” Gumam Kuroko sebelum ia
membenamkan wajahnya di bantal.
Sial.
Dua kali dibantah dan itu sudah cukup membuat Akashi
jengkel.
Sabar Seijuurou…
batin Akashi pada diri sendiri sambil mengelus dada melihat sifat keras kepala
sang kekasih masih melekat kuat padahal yang bersangkutan masih dalam kondisi
setengah sadar.
Namun dibantah dua kali tidak membuat Seijuurou yang juga
keras kepala tidak kehilangan akal. Iris dwiwarna miliknya menjelajahi ruangan
gelap dengan penerangan minim itu dengan teliti.
Ah!
Matanya tertuju pada benda yang akan ia gunakan sebagai
pembujuk, atau tepatnya pengancam agar Tetsuyanya mau bangun dari tidur
manisnya.
Seringai jahil terukir di wajah tampannya. Akashi mulai
mendekatkan kepalanya pada kepala Tetsuya yang masih bertutup bantal dan
tangannya bergerak menyingkirkan benda pengganggu bersarung merah tersebut.
Kuroko kembali merasa terganggu dengan Akashi yang lagi-lagi
mengusik istirahatnya –walau itu disebabkan oleh permintaannya sendiri-. Untuk
yang sekarang, nyawanya sudah terkumpul tiga perempat namun ia tidak ada niat
untuk beranjak dari ranjang empuk itu. Rupanya sang surai langit merasa sedikit
kesal dan memutuskan untuk ngambek pada Akashi.
Oh Kuroko Tetsuya, andai kau ingat janji yang kau buat
dengan seorang Akashi Seijuurou sebelum kau jatuh tertidur.
Melihat gelagat tidak nyaman dari Kuroko, Akashi menyeringai
senang. Akhirnya, ia berhasil mengusik tidur Tetsuyanya dan membuatnya
terbangun. Oh, jangan kira seorang Akashi Seijuurou tidak menyadari hal-hal
seperti ini. Ingat, dia itu absolut.
“Tetsuya~” Akashi kembali memanggil nama kecil Kuroko,
bahkan sekarang dibarengi dengan gelitikan di bagian pinggang, entah kapan
Akashi berhasil memasukan tangannya ke dalam baju Kuroko, membuat sang surai
langit yang masih berpura-pura tidur sedikit merinding.
“Bangun~ Sayang~” sekarang nada Akashi semakin
dilambat-lambatkan dan dimanis-maniskan. Kuroko jadi merasa horror sendiri.
Namun sifat keras kepalanya masih menyuruh tubuh mungilnya untuk tetap
berakting seperti orang yang masih tertidur lelap.
Ho…
Jadi Tetsuyanya memang benar-benar menantangnya.
Seringai di bibir Akashi makin lebar dan sekarang tangannya
bergerak menuju…
!!!
Kuroko bersumpah, ia nyaris meloncat dari tempat tidurnya
begitu jemari lentik Akashi mendarat nakal di bagian sensitifnya,
Leher.
Sukses.
Sekarang iris aquamarine
Kuroko sukses terbuka lebar dan ia memandang Akashi yang masih senantiasa
memposisikan wajahnya dekat dengan wajah Kuroko sambil tetap menggerakan
jarinya dengan gerakan abstrak namun pasti membuat geli di leher putih mulus
milik Kuroko.
“Akashi-kun, kau menggangguku.”
“Oh maaf saja Tetsuya. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan
ini. Namun satu setengah jam yang lalu seseorang meminta tolong untuk
membangunkannya satu jam setelah ia berbicara karena ia akan meminjam laptopku
untuk mengerjakan tugas. Bagaimana dong?” sahut Akashi dengan raut wajah
terluka namun nada sarkastik sangat kentara.
Shit.
Akashi vs Kuroko : 1-0
Kuroko skakmat, Akashi menang.
Bunyi telapak kaki yang dihentakan ke lantai terdengar cukup
nyaring di ruangan yang hampa akan polusi suara itu. Sepasang iris aquamarine yang terpancar sedikit rasa
jengkel karena berhasil dibuat skakmat oleh lawan bicaranya menatap sepasang
iris heterochrome.
“Baiklah. Aku akan makan tapi ijinkan aku begadang
mengerjakan skripsi.”
“Terserah. Yang penting kamu makan, sayang.” Lengkungan
kecil yang terkesan jahil terbentuk kembali di sudut bibir Akashi Seijuurou.
Mengacuhkan decakan kecil yang dilontarkan oleh bibir tipis seorang Kuroko
Tetsuya yang baru saja beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu--
“Aduh!”
--Dan di akhiri dengan teriakan bernada datar dari sang empu
yang tanpa sadar tertubruk tembok.
Hehe, sekarang
waktunya~
-x-
Kuroko berhasil memasuki ruang tengah apartemen setelah
badannya –atau tepatnya lututnya lah yang paling pertama dan paling keras
mencium tembok hingga pembuluh darah yang terletak di sana pecah dan membengkak
menyebabkan bagian tersebut mengalami kondisi memar dan biru.
Akashi mengikuti Kuroko di belakang dengan tenang, tentunya
sekarang ia menghidupkan fitur senter di telepon genggam miliknya. Takut kalau
kekasihnya tertubruk sesuatu lagi. Masih syukur kalau tertubruknya tembok lagi,
kalau kakinya terkena jebakan tikus? Akashi juga yang akan repot.
“Ng?” gumaman bernada penuh tanya menyadarkan Akashi dan ia
langsung berjalan mendekati Kuroko.
“Ada apa?” tanyanya sambil memposisikan tangan yang memegang
penerangan di pundak Kuroko.
Pemuda bertubuh mungil yang tubuhnya dibalut baju kaos
berlengan panjang berwarna putih dan celana berbahan tipis selutut itu tidak
bergeming.
“Ada apa, Tetsuya?” Akashi menjulurkan lehernya sedikit ke
depan untuk melihat wajah Kuroko. Ia kemudian mengikuti arah di mana kedua mata
bulat Kuroko terpaku, penyebab utama dari keanehan ini.
Kalender.
Mata Kuroko terpaku pada kalender, tepatnya pada tanggal dua
belas Juli.
Tanggal yang sudah diberi tanda oleh Kuroko, karena selain
pemuda itu di apartemen ini tidak ada yang hobi mencoret-coret kalender untuk
mengenang suatu momen.
“Ada apa, Tetsuya?” Akashi kembali mengulang pertanyaannya,
sekarang salah lengannya yang bebas merengkuh pundak Kuroko bermaksud untuk
mengembalikan kesadaran yang bersangkutan.
Kuroko tidak menjawab pertanyaan Akashi, sekarang ia malah
beranjak pergi dari meja bar yang menjadi sekat antara dapur dan ruang tengah,
di mana kalender mungil terpajang di bagian pojok meja yang berdekatan dengan
tembok.
Akashi memandang kekasihnya dengan tatapan bingung, namun ia
tetap mengikuti langkah hati-hati nan mungil Kuroko yang sekarang beranjak ke
dekat jendela merangkap pintu yang tadi sempat ia tutupi dengan lapisan dalam
tirai berwarna putih sebelum membangunkan Kuroko.
Telapak tangan berkulit putih pucat milik Kuroko secara
perlahan menyibakan tirai tipis berwarna putih tersebut dan kedua mata bulatnya
semakin membola begitu melihat pemandangan yang tersaji di luar pintu yang
menghubungkan sepasang kekasih itu dengan dunia luar.
“Akashi-kun—Ini…” untaian kata-kata yang ingin Kuroko
sampaikan pada sang kekasih tiba-tiba serasa tercekat di tenggorokan. Rasanya
otak Kuroko tiba-tiba blank dan
segala informasi yang ia proses tiba-tiba terhenti di tengah jalan.
Akashi tersenyum kecil sebelum ia berjalan mendekati Kuroko
dan membuka pintu jendela tersebut sehingga angin hangat musim panas langsung
menyapu wajah kekasihnya itu.
“Super moon…
Tetsuya… Tentunya kau tahu apa arti fenomena alam itu…”
Kuroko memandang Akashi dan langit malam yang terlihat
sangat terang dibanding malam-malam lain secara bergantian.
“Tentu, Akashi-kun…” Kuroko meraih tangan Akashi yang tidak
sengaja terbentur dengan tangannya dan menautkan jari keduanya dengan hangat. “Super moon adalah fenomena yang terjadi
setiap setahun sekali di mana posisi bulan lebih dekat dengan bumi sehingga
bulan purnama terlihat lebih besar, terang, serta bersinar pada malam hari.”
Lanjutnya sambil mengangkat tautan tangan mereka dan mendekatkannya pada bibir
tipisnya sebelum akhirnya ia mengecup singkat punggung tangan Seijuurou yang
masih bersatu dengan tangannya.
“Iya… Tetsuya… Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di
balkon sambil memandangi bulan yang kebetulan terlihat sangat bagus dari balkon
apartemen. Tapi—“ Seijuurou menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal
menggunakan sebelah tangan yang bebas karena penerangan sudah ia masukan ke
kantong celana, “Sepertinya angin mulai berhembus keras dan aku tidak yakin teh
yang kubuat masih hangat karena membangunkanmu saja membutuhkan waktu sekitar
setengah jam” Akashi terkekeh pelan sementara Kuroko menggembungkan pipinya
yang bersemu merah.
Malu diketarakan oleh sang kekasih karena belakangan ini
sifat menyerupai kebo benar-benar
menggerogoti dirinya.
“Jadi, kita makan di dalam saja ya, bisa kok melihat bulan
dari sini…” lanjut Akashi, kemudian ia berjalan untuk mengambil teh serta teko
untuk di bawa ke dalam. Namun kegiatannya terhenti begitu tangannya nyaris
mengangkat teko serta teh karena merasakan sebuah tangan mungil menahan
lengannya untuk melakukan hal itu.
Kuroko Tetsuya menatapnya dengan tatapan memelas namun sifat
keras kepala tersirat di dalamnya.
“Akashi-kun, kita akan makan di sini malam ini… Angin malam
ini hangat dan aku yakin tehnya belum dingin jika Akashi-kun tadi menyeduhnya
dengan air super panas.”
Akashi menghela napas dan mengurungkan niatnya untuk
mengangkat seperangkat peralatan teh tersebut.
“Ya sudah, mari kita makan malam dengan romantis di balkon
yang disinari sinar Super Moon, my lady.”
Kata Akashi sambil membungkukan badannya sopan sambil mencium punggung tangan
Kuroko, layaknya seorang pangeran bangsawan Eropa era Reinassence ketika
mengajak seorang putri untuk berdansa.
Hanya Kuroko Tetsuya yang mampu membuat Akashi Seijuurou
tunduk dan bertekuk lutut serta melupakan semua keabsolutannya.
.
-END-
.
Eits, tunggu dulu,
masih ada lanjutannya lho~J
.
OMAKE:
.
Suara dentingan antara piring keramik dan sendok sayur
sesekali terdengar di kala salah satu dari kedua pemuda tersebut menambah jatah
lauknya.
Sekarang keduanya tengah menikmati makan malam mereka di
balkon sebari menikmati sinar bulan dan pemandangan Tokyo. Perlu diketahui,
menu makan malam mereka yang kata Seijuurou romantis adalah gohan* dengan sup tofu yang dibuat
dengan resep ala Seijuurou sendiri. Sebagai tambahan, sepoci teh hijau dengan
cangkir di sebelah piring keduanya menjadi pelengkapan malam itu.
Menu makan malam yang sangat tradisional.
Sangat bertolak belakang dengan situasi mereka makan malam
sekarang, di balkon apartemen yang di desain dengan gaya eropa, serta meja
bundar kecil berbahan kayu mahoni dengan dua kursi berlengan berposisi
hadap-hadapan yang sekarang tengah mereka duduki.
Mungkin seharusnya dengan menu makanan seperti itu, lebih
cocok bagi mereka untuk duduk bersila di suatu ruangan bertatami dengan yukata
melekat di tubuh keduanya, bukannya baju tidur berupa kaos berleher bulat
–untuk Akashi kaos berkerah Polo- dan celana basket.
“Hm… Akashi-kun,” panggil Kuroko tiba-tiba. Akashi
menuntaskan kegiatan mengunyahnya lalu menelan sebelum ia menatap Kuroko
sebagai respon. Tidak sopan menurut Akashi jika merespon lawan bicara dalam
keadaan mulut penuh.
“Ada apa, Tetsuya?”
“Akashi-kun, kau itu bukan orang yang dramatis serta
romantis secara terang-terangan, kenapa kau berpikiran untuk menata makanan di
sini?”
Sungguh gamblang, frontal, tepat sasaran, dan menusuk
pertanyaan tadi.
Akashi tampaknya sudah kebal dengan mulut menusuk nan
ngejleb Kuroko hanya terkekeh sebentar.
“Karena malam ini super
moon, jadi aku juga ingin kamu sedikit refreshing,
tidak ada salahnya kan menikmati pemandangan malam yang jarang sekali bisa di
dapatkan sehari-hari?” jawabnya dengan nada ringan dan jenaka.
Kuroko mengangguk-ngangguk sebelum akhirnya ia kembali
menyantap tofu empuk yang sudah direbus dengan penuh keabsolutan oleh Akashi.
“Akashi-kun, sup tofumu tambah enak.” Puji Kuroko dengan
wajah datar. Jika Akashi tidak mengenal Kuroko dengan baik, pasti ia sudah
was-was itu sindiran atau memang pujian.
“Terima kasih Tetsuya,”
Keduanya kembali diam dan sibuk menghabiskan makanan yang
tersisa di piring dan mangkuk sup yang tersaji di depan mata mereka.
Kuroko yang memang porsi makannya lebih sedikit dari Akashi
menyelesaikan makannya terlebih dahulu, dan ia sekarang tengah meminum tehnya,
sesekali ia juga merasakan bulu kuduknya berdiri akibat angin malam yang
lumayan kencang.
“Sudah kuduga, tubuh mungilmu tidak kuat dengan udara malam
walau musim panas, Tetsuya.”
Sial. Akashi memergoki hal-hal kecil seperti itu dengan
mudah. Kuroko sedikit mendelik ketika meletakan cangkir ke meja.
Otak jahil terselubung Akashi kembali bekerja begitu melihat
kekasihnya kedinginan.
“Mau aku hangatkan, agar sewaktu melanjutkan skripsi tetap
segar?” tanyanya dengan nada ambigu dan kilatan jahil terpancar jelas.
Kuroko sontak melotot melihat kekasihnya dengan tatapan
horror. Di benaknya terbesit pikiran, sejak
kapan Akashi hobi membicarakan hal ambigu seperti Aomine?
“Kau mesum, Akashi-kun.”
“Tidak. Aku hanya menawarkan kehangatan, Tetsuya.” senyuman
sadis nan jahil terukir di bibir sang tuan muda.
Akashi langsung beranjak dari tempat duduknya, dan mendekati
Kuroko, yang juga sedang berusaha untuk kabur dari kursinya dan lari ke dalam.
Saat tubuh Kuroko nyaris mencapai pintu kaca demi
keselamatan pinggang dan waktu tidurnya malam ini—
GREP!
Terlambat. Akashi Seijuurou telah merengkuh tubuh kekasihnya
dengan erat dari belakang terlebih dahulu.
“Tenang saja, aku tidak akan mengganggu waktu tidurmu kok.
Kaulah yang berpikiran mesum duluan, Tetsuya.” Ujar Akashi kemudian ia memegang
ujung dagu Kuroko agar kepala sang surai langit menoleh ke samping dan ia bisa
mengecup pipi pucat Kuroko dengan lembut.
Rona merah terlihat di wajah Kuroko ketika bibir Akashi
menyapu pipinya dengan lembut. Ia kemudian menarik-narik tangan Akashi agar
melonggarkan dekapannya, ia benar-benar malu saat ini. “Kau ngeles,
Akashi-kun.”
Akashi menaikan
sebelah alis. Ternyata memang benar kekasihnya ini entah sejak kapan sudah
tertular oleh sifat tsundere Midorima.
Suatu keuntungan bagi Akashi yang memang hobi menjahili Kuroko diam-diam.
“Oh, jadi kau meminta? Baiklah Tetsuya. Bersiaplah untuk
tidak tidur sampai listrik menyala kembali.”
Kuroko menyesal telah mengikuti pikiran porno dan rasa
malunya, sekarang ia memasuki lubang buaya. Entahlah apakah dirinya bisa
menyelesaikan skripsi malam ini atau yang ada malah ia tidak bisa berjalan
keesokan hari.
Semoga saja besok ia bisa ke kampus tanpa sesi berjalan
terseok-seok maupun ‘gigitan nyamuk’ di tubuhnya, walau kemungkinan itu terjadi
hanyalah satu persen.
.
-END-
.
Gohan= nasi Jepang, rasanya agak sedikit lebih manis dari nasi yang
biasa.
.
Jadi~ Asal mula fic ini lahir adalah karena aku yang sesumbar banget
mau ikut challenge (padahal waktu itu ide lg blank banget) terus beberapa hari
kemudian mati lampu dan yah… Fic ini tiba-tiba kepikiran aja.
Maaf kalau ada yang pernah ngepost cerita dengan alur yang sama kayak
gini tapi seriously aku sekarang jarang bgt buka fanfiction . net karena sibuk jadi ga
sempet ngeliat fic laen.
Maaf kalau ada typo dan yang kurang berkenan :’3
Terima kasih yang sudah membaca~
Review please?:3
-shizukamiyuki-
.
So, this is the end of my first fanfiction in here, in blogspot . com. I wrote this fanfiction, a few months ago, in order to complete the challenge which held by RubyAquamarine group -a group of kurobas's fans- in facebook, and yay! I ended up and the second runner up at that challenge.
I hope you guys enjoy my story :3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar