Senin, 15 Desember 2014

When The Light Turn Off, an Akakuro short story about how they'll handle the 'mati lampu' condition in their own romantic way.

ME-NYE-BAL-KAN!
Empat suku kata berurutan itu sekarang tengah menggerogoti perasaan seorang pemuda berwajah imut bernama Kuroko Tetsuya.
Rasanya ia ingin sekali mengumpat-umpat ketika melihat pemandangan menjengkelkan yang ia serta sang kekasih, Akashi Seijuurou dapatkan malam ini.
Eh, menjengkelkan?
Memang pemandangan seperti apa yang berani menampakan dirinya hingga membuat emosi tersulut dari dalam diri seorang Kuroko Tetsuya?
Mari kita mencoba untuk menebak.
Sekumpulan preman kampung dengan gaya rambut mirip mantan anggota tim basket mereka di Teiko, Haizaki Shougo sedang berdiri di gang berbau sampah busuk menunggu mangsa seorang gadis perawan lewat di tempat menjijikan itu sehingga bisa mereka poroti –atau lebih parahnya dilecehkan dan diperkosa?
Tidak. Asal Tetsuyanya bukan incaran dari preman-preman itu, Akashi masa bodoh dengan sekumpulan orang-orang kurang kerjaan tersebut. Lagipula, di tempat mereka berdiri sekarang adalah suatu titik yang relatif aman di wilayah Tokyo, jadi pemandangan preman-preman seperti tadi sangat jarang ditemui. Kalaupun ada, polisi langsung meringkus mereka.
Tebakan pertama salah.
Melihat pasangan tidak tahu malu tengah bercumbu di tempat umum –yang mentang-mentang kali ini situasi sedang gelap- sambil saling grepe-grepe?
Tidak juga. Kalau boleh diumbar, Akashi pun pernah melakukan hal sebangsa dengan itu –tanpa grepe-grepe- dengan sang kekasih di mobil sport merah miliknya yang terparkir rapi di pinggir jalanan sepi. Namun sayang mereka terkena apes dan nyaris dihampiri polisi andai Akashi tidak menyadarinya terlebih dahulu dan langsung tancap gas.
Salah lagi.
Anjing Alaska mungil bermata biru langit yang diketahui bernama Nigou mendadak menjadi buas dan raksasa serta berganti warna iris menjadi heterochrome seperti milik Akashi?
Walau mengerikan, tapi pilihan tadi benar-benar salah dan terlalu muluk-muluk. Memangnya mereka berdua sedang berada di dunia novel fantasi di mana seorang makhluk imut bisa berubah menjadi monster buas yang siap menerkam mereka dan memporak porandakan keadaan?
Tiga tebakan dan semuanya salah.
Lalu,
Ada apa sebenarnya ini?
Kuroko menatap kekasih bersurai merahnya yang sedang mengunci mobil dengan tatapan datar. Cih, bahkan ketika kata ‘menyebalkan’ menghampiri dirinya, Kuroko masih saja bisa memasang wajah tanpa ekspresi itu. Padahal—
“Sei-kun, lain kali ingatkan aku untuk mengikuti insting, terutama yang mengatakan bahwa aku harus mengisi daya baterai selagi listrik hidup di masa pemadaman listrik begini.”
--untuk yang kelima kalinya dalam seminggu, apartemen tempat mereka berdua tinggal mendapat ganggu sehingga ketika malam hari, listrik mati total. Tepat di saat keduanya baru saja tiba di apartemen.
Baru menginjakan kaki selangkah dan tiba-tiba…
Suasana yang semula terang menjadi mendadak gelap.
Dan Akashi, walau selalu mengklaim dirinya absolut, kali ini ia tidak bisa menjamin sang kekasih tidak merasa jengkel tingkat maksimal dikarenakan tugas skripsinya lagi-lagi harus tertunda dikarenakan baterai laptop berwarna biru milik sang kekasih sekarat.
.
When The Light Turn Off
Kuroko no Basket by Tadatoshi Fujimaki
(I don’t get any commercial profit from this fanmade story. Kuroko no Basket originally belongs to Fujimaki Tadatoshi)
Rate: T
Genre: Romance, Fluffy, (a bit) family, Real Life based (?)